Kamis, 16 Juni 2016

Benarkah Orang yang Setia Sudah Tidak Ada



Kemarin malam saya tertawa mambaca status seorang teman di media sosial. Saat seseorang meminta seekor naga kepada jin, si jin menolak dengan alasan itu tidak masuk akal. Lalu yang mengajukan permintaan tersebut mengganti permintaan dengan "seorang pacar yang setia". Si jin malah bertanya warna naga yang diinginkan orang tersebut.
Mungkin kita sudah pernah melihat gambar atau mendengar cerita tersebut. Tetapi benarkah memang sudah tidak adalagi wanita atau pria yang setia?
Beberapa bulan yang lalu seorang teman facebook saya meninggal, lalu seseorang men-tag status di dinding teman tersebut dengan tulisan "Dengan berat hati akhirnya saya membawa salibmu ke tempat peristirahatan terakhir".
Terkesan dengan tulisan tersebut lalu saya membaca-baca status lelaki itu. Dan dari status-statusnya saya tahu cerita antara lelaki itu dengan teman saya tersebut. Mereka pacaran sejak SMA, si wanita berasal dari keluarga yang cukup mampu sedang si lelaki dari keluarga sederhana. Beberapa kali si lelaki mengeluh sikap si wanita berubah sejak dia kuliah sedangkan si lelaki tidak mampu melanjut lagi.
Si Wanita melanjutkan kuliah di luar pulau, bahkan si lelakilah yang 2 tahun lalu mengantarkannya ketika akan pergi. Mereka pernah berjanji untuk saling setia, tapi sepertinya si wanita perlahan-lahan mulai menjaga jarak. Setiap statu yang di-tag saya tidak melihat wanita itu memberikan respon, apakah berupa komentar atau hanya sekedar memberi tanda jempol.
Padahal dalam banyak kesempatan saya melihat si wanita cukup aktif di media sosial. Dia cukup sering update status walaupun memang distatusnya tidak pernah menyerempet kata-kata cinta untuk lelaki manapun. Akhir Oktober atau awal November kemarin si wanita pulang dalam kondisi yang sakit parah. Lalu teman-teman menghubungi lelaki itu karena mereka pernah cukup dekat. Si lelaki-lah yang menjaga wanita itu di rumah sakit bahkan sampai hari terakhirnya.
Dari status si lelaki juga ternyata orang tua wanita itu cukup mengenal si lelaki karena dibeberapa kesempatan orang tua wanita meminta tolong kepada lelaki itu. Dan bahkan permintaan terakhir orang tua wanita agar si lelaki yang membawa salib si wanita saat akhirnya maut menjemput.
Ternyata orang-orang setia itu masih ada walaupun mungkin jumlahnya tidak sebanyak orang yang mudah mempermainkan cinta.

Saat Fisik tak Sempurna





Setiap orang pasti menginginkan agar terlahir sempurna seperti orang lain, atau bahkan kalau bisa terlahir istimewa. Tetapi adakah yang bisa menolak terlahir menjadi siapa dan seperti apa? Walaupun katanya setiap orang diciptakan dengan tujuan yang baik, tetapi masih sering kita mendengar orang mengejek orang lain karena  fisik yang tak sempurna.
Itu bukan hanya terjadi pada anak sekolah dasar yang belum mengerti apa-apa atau anak ABG yang labil yang masih senang bercanda. Kadang, orang dewasapun masih menganggap biasa saja memberi gelar kepada orang lain berdasarkan penampilan fisiknya.
Kemarin sore teman kerja menyebut teman lain dengan gelar yang sungguh sebelumnya saya tidak menduga bahwa nama yang disematkan kepada teman tersebut berhubungan dengan fisik. Sempat erpikir lama untuk mencari tahu siapa yang dimaksud.
Setelah lama berpikir akhirnya menyadari yang dimaksud adalah seorang teman yang memang mereka kurang sukai. Tapi pantaskah ketidak sukaan lalu memberi gelar berdasarkan fisik?
Semoga kita tidak menghina ciptaan Tuhan hanya karena tidak suka dengan sifat dan sikap seseorang.

Asal Mula Ibadah Kristen di Hari Minggu



Selama ini saya tidak pernah mempertanyakan kenapa Orang Kristen Ibadah hari Minggu, bukan hari Sabtu seperti Sabatnya Orang Israel. Padahal Kristen mengikuti tradisi Israel dalam beberapa hal. Justru pertanyaan itu datang dari seorang guru beragama Islam yang mengajar dan tinggal di kampung kami. Tetapi saya belum pernah mendapatkan jawaban atas pertanyaan itu.
Baru beberapa minggu lalu Ibu Pendeta di gereja menyebut, asal mula Orang Kristen ibadah di Hari Minggu adalah karena Yesus bangkit hari ke tiga yaitu Hari Minggu dan itu disebut Dominggos atau bertemu dengan Tuhan. Itulah awal orang Kristen beribadah di hari Minggu, bukan lagi hari Sabtu atau Sabat.

Kebiasaan Baik yang Menjadi Terasa Aneh





Siang tadi saya dan teman kantor ada urusan ke bank yang tidak bisa diwakilkan. Bank ini memang cukup sepi karena mungkin kurang terkenal , kalau tidak salah di Jakarta saja cuma ada 5 cabang. Tetapi berhubung kantor membayar gaji lewat bank ini maka mau tidak mau ya harus jadi nasabah bank tersebut.
Saat sedang menunggu petugas bank yang kebenaran katanya sedang istirahat, ada seorang lelaki yang masuk. Kebenaran saya, teman saya dan sopir kantor duduk di depan teller. Setelah lelaki yang baru masuk itu selesai menulis untuk transaksinya, dia lalu menyapa sopir kantor dan sambil menyalaminya. Mungkin karena sudah menyalam seorang, dilanjut salam teman saya dan yang terakhir menyalam saya dengan wajah ramah. Saat lelaki itu menghadap teller, saya berbisik ke teman di samping saya "Siapa?". Teman saya menggeleng sambil berbisik "Tidak tahu".
Sayapun terdiam dan tidak bertanya lagi, sebenarnya berasa lucu, menyalam orang yang tidak dikenal di tempat umum. Padahal sebenarnya itu tradisi yang baik, apalagi tempat ini tempat umum yang tidak terlau ramai. Tapi terkadang karena sudah terbiasa dengan individualis, jadi hal baik tersebut kita abaikan.
Semoga hal-hal baik dapat kita tumbuhkan lagi dengan sesama.

Kamis, 09 Juni 2016

Sikap yang Kita dalam Grup




Dengan semakin berkembangnya tekhnologi sekarang, orang sudah bisa saling berkomunikasi dari belahan bumi manapun, asal terhubung satu sama lain. Maka untuk memudahkan komunikasi banyak orang dalam 1 pembicaraan/bahasan dibentuklah grup-grup, baik grup BBM, what'sApp, facebook dan mungkin banyak grup lainnya.
Tidak bisa dihindari, dalam grup tersebut, pasti terdapat banyak sifat yang berbeda, bukan hanya orang yang belum saling mengenal. Orang yang saling mengenalpun kadangkala tetap terjadi salah paham.
Dalam beberapa kali kejadian, saya melihat ada teman yang keluar grup karena alasan tidak nyaman dengan yang dibahas, tidak suka dengan seseorang atau alasan-alasan lain yang intinya bermasalah dengan grup tersebut. Kalau alasannya karena sibuk dan punya banyak grup kita harus makslum karena kita tidak tahu kegiatan dan grup apa saja yang diikuti oleh teman tersebut.
Tetapi kalau masalahnya adalah antar anggota grup apa yang akan kita lakukan? Kebenaran saya ikut beberapa grup baik di What'sApp maupun BBM. Ketika dua atau beberapa teman berselisih paham saya memilih diam. Karena kalau kita memberi komentar takutnya menguntungkan 1 pihak dan menyakiti pihak lain.
Tetapi kalau saya tahu masalahnya, saya mencoba memberi pandangan versi saya agar yang lain juga bisa melihat dari dua sisi. Tetapi kadang ada sikap teman yang saya sesalkan, dimana mereka menghubungi salah satu lalu memberikan kata-kata yg kurang baik buat pihak yang lain dan pihak yang dihubungi ini, karena merasa diatas angin mengirimkan percakapan digrup yang akhirnya membuat suasanan semakin panas.
Dalam pertemanan ini kita tidak tahu kapan cocok dengan yang satu dan kapan ada masalah dengan yang lain, setiap kita pasti mengharapkan hubungan setiap kita akan baik-baik saja. Tetapi adakala sesuatu hal kita lihat dengan sudut pandang yang berbeda dengan teman, dimana hal tersebut menyelipkan rasa tidak nyaman.
Dalam pertemanan saya sering bermain aman saja, kalau pembicaraan tidak menarik saya tidak ikut nimbrung dan nanti chat itu saya hapus. Kalau cukup menarik dan saya punya waktu saya ikuti alur pembicaraan. Semua tergantung kita apakah ada digrup sebagai pembaca, pendengar, pembicara atau pemberi solusi.

Selamat berbagi hari-hari dengan teman nyata maupun maya....