Selasa, 19 April 2016

Ketika Orang Mulai Mati Rasa



Seorang teman yang tinggal di luar Surabaya dan bekerja di Surabaya kemarin menulis di statusnya "Punya rumah jauh bagiku luar biasa. Menghabiskan waktu di jalan bertemu dengan berbagai macam kecelakaan. Seperti malam ini, di daeraha Buduran ada kerumunan orang katanya kecelakaan. Naluri muncul lalu meminggirkan sepeda motor dan berjalan ke arah korban. Tadinya berpikir bahwa korban sudah ditolong tetapi astaga mereka cuma melihat dan bahkan foto-foto. Lalu saya melepaskan helmnya, pegang nadi karotis, masih kuat 84x/menit. Lalu berteriak agar ada yang mencari ambulans”.
Teman saya ini kebenaran seorang perawat. Membaca statusnya tersebut saya berpikir, benarkah orang-orang sudah tidak perduli lagi terhadapa sesama untuk memberikan pertolongan pertama? Benarkah foto membantu cepat dan tepat dibanding sentuhan?
Dalam beberapa kejadian ,malah foto-foto menyebabkan banyak kerugian, bukan saja hanya merugikan pihak lain tapi bisa juga merugikan diri sendiri atau bahkan kehilangan nyawa.
Semoga rasa peduli kita mengalahkan keinginan pamer ataupun terlihat update di media sosial.

Senin, 18 April 2016

Penjajahan Atas Nama Rakyat Kecil



Kalau mendengar orang besar menjajah orang kecil rasanya itu sangat biasa dan kita akan mendapat contoh baik dari bisik-bisik tetangga maupun diberita-berita. Dari berita yang dapat dipercaya sampai berita yang tidak jelas. Tetapi tanpa kita sadari dalam banyak hal, orang kecil juga banyak menjajah dengan berlindung dibalik tameng orang kecil.
Pasar Pondok Gede yang berada diperbatasan Jakarta Timur dan Bekasi, mungkin adalah salah satu contohnya. Mall Pondok Gede terletak di tengah akses jalan, arah Barat akses menuju Lubang Buaya, UKI dan Rambutan. Selatan akses ke arah Kalimalang, Rawamangun dan Pulo Gadung, sedang Tenggara akses menuju Jati Asih, Jati Bening dan daerah -daerah Bekasi lainnya.
Jalan utama di sini tidak terlalu lebar tidak juga terlalu sempit. Tetapi sebagian badan jalan digunakan para pedagang untuk berjualan. Setiap sore sampai subuh memang setengah badan jalan digunakan oleh pedagang sayuran. Tetapi beberapa penjual malah membuat kios dari papan sehingga otomatis akan berdiri di sana siang dan malam.
Menjadi akses ke banyak tempat, tentu saja jalan raya Pondok Gede cukup padat, ditambah dengan kios-kios ekcil dipinggir jalan  tentu saja sedikit banyak turut menyumbang kemacetan. Padahal pemerintah sudah membuat lokasi pasar untuk berdagang diseberang mall Pondok Gede, itu sebelum Atrium Pondok Gede dibangun.
Tetapi orang tetap berlomba untuk berjualan di pinggir jalan. Beberapa tahun yang lalu pemerintah membangun Atrium Pondok Gede yang disingkat dengan nama APG, lantai dasar menjadi pasar kering dan lantai 1 untuk pedagang kain dan akesoris. Tetapi pembangunan APG bukan berarti wajah semrawut Pasar Pondok Gede menjadi berkurang. APG terlihat sepi dan pasar tradisional yang basah tetap ada.
Baru pada awal 2015 jalan raya Pasar Pondok Gede mulai ditata dengan menggusur semua kios-kios yang dibangun dipinggir jalan. Selain jalanan lebih lancar, pemandangan juga jadi terlihat lebih rapi dan bersih.
Jadi tidak selamanya orang besar menjaajah orang kecil. Tetapi banyak orang  yang membela yang salah dengan alasan mereka orang kecil. Semoga kita lebih adil dalam memberi penilaian dan perlakuan. Salam...

Malam yang menyeramkan




Malam yang menyeramkan

Hari Sabtu, 16 April 2016 kemarin sepulang dari training dari kantor saya lanjut melayat ke rumah mertua Pak Michael ketua organisasai yang saya ikuti. Kebenaran rumah duka ada di Pondok Gede dan rasanya tidak enak kalau tidak hadir padahal saya tinggal dekat dengan daerah tersebut.
Sebelumnya sudah janji ke Kakak ipar kalau saya akan pulang walapun tidak ada orang di rumah dan minta kunci dititip di Pak Satpam. Di tempat melayat, salah seorang teman minta ditemani sampai malam dan menawarkan untuk menginap saja di rumahnya. Tetapi berhubung sudah janji untuk pulang ditambah ada anak anjing kecil yang takutnya nanti kelaparan, saya bersedia menemani sampai pukul 22:00wib saja.
Sekitar pukul 22:00wib saya siap-siap pulang dan kebenaran ada yang searah sehingga saya bisa nebeng dengan mereka. Sekitar pukul 22:30-an saya tiba di gerbang kompleks dan menuju pos satpam. Pak Satpam sempat bertanya, Mas saya yang titip kunci mau kemana. Saya jawab singkat "sedang pergi" dan saya imbuhi lagi "Tolong nanti diperhatikan kalau lewat rumah kami ya Pak". Dengan bercanda Pak Satpam menjawab " Nanti saya ketok-ketok ya" dengan suara menakut-nakuti. Dan dengan tertawa saya menajwab "Tenang Pak, saya punya penjaga yang perkasa".
Sesampai di rumah dilanjut mandi, nonton dan chat dengan seorang teman lama. Kebenaran ada cerita seru yang sedang kita bahas. Hingga waktu menunjukkan 00:18 wib saya beranjak ke tempat tidur. Mungkin karena kelelahan, sepertinya saya tertidur dan tiba-tiba telinga saya mendengar ada suara seperti kunci yang dicoba-coba untuk dibuka. Cuma kurang jelas apakah kunci gerbang atau kunci pintu depan. Tiba-tiba jantung saya berdebar sangat kencang, keringat dingin di dahi dan kaki yang ikutan dingin. Saya mencoba menajamkan telinga. Waktu menunjukkan pukul 01:33 wib.  Setelah menenangkan diri dengan mensugesti diri sendiri "Penjaga-ku tidak tidur" akhirnya jantung kembali tenang dan sempat berselancar di dunia maya, akhirnya pukul 02:22 saya mematikan hp dan kembali tidur.
Setelah kembali terlelap, tiba-tiba telinga saya menangkap lagi ada suara kunci yang sedang diputar berulang-ulang dan suara itu datang dari belakang. Sedangkan di belakang hanya kamar kosong dan kamar mandi serta tempat mencuci yang tak beratap. Sempat mendengar suara itu 2 kali dan mencoba menebak-nebak suara apakah itu gerangan.
Untuk menghibur diri, saya mencoba membayangkan bahwa itu suara tikus yang sedang tersandung sesuatu. Tidak lama kemudian saya tertidur lagi dan baru terbangun saat alarm berbunyi. Dan rasanya baru kali ini lega sekali saat pagi tiba. Akhirnya malam horor itu telah berlalu dan semoga tetap bisa tenang kalau ada kejadian seperti itu. Ketika saya bercerita kepada teman, teman bertanya apa yang saya takutkan. Saya ajwab "Maling" karena mereka bisa melakukan hal-hal buruk.

Jumat, 15 April 2016

Panggilan Nama dalam Orang Batak



Bagi orang Batak, kalau panjang umur akan ada 3 kali pergantian nama, bahkan bisa 4 kali. Ketika lahir, maka orang tua akan memberi nama sesuai dengan keinginan mereka. Maka nama itu akan dipanggil sampai dia dewasa dan menikah , itulah nama pertama.
Setelah menikah, orang Batak jarang memanggil namanya waktu sebelum menikah. Akan dipanggil “Mama yang  ditunggu atau Papa yang ditunggu” (Oma ni sipaima dan Bapak ni sipaima” dalam artian anaknya masih . Karena pantang bagi orang Batak memanggil nama untuk orang yang sudah menikah. Kalau anaknya sudah lahir, maka nama Bapak dan Ibunya akan dipanggil sesuai nama anaknya yang paling besar denagn diembel-embeli Papanya si A atau Mamanya si A. Maka tidak jarang, setelah menikah orang tidak lagi hafal siapa nama  muda-nya, hanya ingat nama anak pertama orang yang dimaksud. Misalnya Nama mudanya Mario dan nama anaknya Boy, maka orang akan lupa nama Mario dan berganti menjadi Bapaknya Boy, ini menjadi anma kedua.
Nanti, ketika Boy akhirnya menikah dan punya anak, anggap saja Sinta. Maka Boy berganti nama menjadi Papa Sinta dan Mario berganti nama mennjadi Oppung Sinta (Kakek Sinta), ini menjadi nama ketiga buat Mario.
Lebih ribet lagi kalau anak pertamanya perempuan atau anak yang duluan menikah anak perempuan. Maka panggilan ke-3 nya menjadi “Oppung ni si C” “Kakek/Nenenk dari C”. Kala anak lelakinya sudah mempunyai keturunan nanti ada upcara adat yang namanya “Sulang-sulang pahompu” untuk mengganti nama dari “Oppung ni si C” menjadi Oppung D ” dari “Kakek/Nenenk si C menjadi Oppung D” Yang membedakan cucu dari anak perempuan adalah kata sambung “si”.
Kalau saya pribadi malah tidak amsalah panggil nama walau sudah menikah. Malah terkesan unik. Seperti Abang sepupu saya dengan Kakak ipar. Walaupun anaknya sudah SMA tetapi mereka berdua saling panggil nama kalau di rumah.
Nama itu adalah identitas, jadi tidak perlu marah kalau nama kita dipanggil. Itu menurut saya ^__^